Senin, Agustus 24, 2026
BerandaEkonomiDari Modal Waktu dan Tenaga, Frozen Food Dbaloy Tumbuh Menembus Pasar

Dari Modal Waktu dan Tenaga, Frozen Food Dbaloy Tumbuh Menembus Pasar

KAYANTARA.COM, TARAKAN—Modal awal Hariyandi ketika memulai usaha bukanlah uang. Ia hanya memiliki dua hal: waktu dan tenaga. Saat itu, kondisi ekonomi keluarga belum sepenuhnya stabil. Usaha laundry yang dijalankannya sejak 2012 memang mampu menghasilkan pemasukan, tetapi pertumbuhannya terasa terbatas. Sebanyak apa pun waktu dan tenaga dicurahkan, omzet tetap sulit berkembang.

“Sebanyak apa pun kita bekerja, omzetnya tetap terbatas. Berbeda dengan produk, kalau kita bisa melipatgandakan produksi, peluang omzetnya juga ikut bertambah,” ujar Hariyandi, yang akrab disapa Andi. Dari keterbatasan itulah perjalanan Frozen Food Dbaloy dimulai. Usaha yang kini berkembang menjadi PT Dbaloy Corp Indonesia tersebut berawal dari sebuah usaha rumahan di Kota Tarakan, Kalimantan Utara (Kaltara).

Nama Dbaloy sendiri menyimpan cerita. Dalam bahasa Tidung, Dbaloy berarti rumah. Nama itu dipilih sebagai pengingat bahwa usaha yang kini telah menjangkau pasar di luar Kaltara tersebut bermula dari rumah, dari kondisi sederhana, dan dari keberanian untuk mencoba. Hariyandi mengaku tidak memiliki perencanaan bisnis besar ketika pertama kali memulai usaha makanan beku. Pada 2014, kondisi ekonomi keluarganya sedang tidak mudah. Ada kewajiban yang harus diselesaikan, sementara usaha laundry yang dijalankannya berjalan stagnan.

Di tengah situasi tersebut, muncul ide membuat produk makanan beku. Produk pertama yang dihasilkan adalah empek-empek berbahan dasar bandeng. Produksinya masih sederhana dan dilakukan di lokasi yang sama dengan usaha laundry. Tantangan terbesar saat itu adalah modal. Hariyandi bahkan mengandalkan sistem pre-order (PO). Konsumen membayar terlebih dahulu, kemudian produk disiapkan beberapa hari setelahnya. “Modal saya awalnya hanya dua, yaitu tenaga dan waktu. Anggaran awalnya tidak punya,” katanya.

Keterbatasan tersebut justru memaksanya mencari cara agar usaha tetap berjalan. Legalitas usaha pun dibenahi secara bertahap. Setelah sebelumnya menggunakan perizinan usaha sederhana, pada 2018 Hariyandi memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) sebagai usaha perorangan. Tahun itu menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan Dbaloy. Usahanya masuk sebagai binaan Bank Indonesia Perwakilan Kaltara.

Dari program pembinaan tersebut, Hariyandi mendapatkan pengetahuan mengenai pengelolaan keuangan, pengembangan produk berbasis riset, perbaikan manajemen usaha, hingga strategi membawa UMKM naik kelas. “Dikasih pencerahan bagaimana cara memanajemen keuangan, menghasilkan produk berbasis riset. Dari situ kami mendapatkan ilmunya,” ujarnya.

Pembinaan tersebut kemudian membuka perspektif baru. Ketika mulai mendapatkan peluang untuk menjajaki pasar yang lebih luas, termasuk ekspor, Hariyandi menyadari bahwa usaha membutuhkan fondasi yang lebih kuat, termasuk badan hukum. Pada Desember 2021, usaha tersebut resmi berbadan hukum menjadi PT Dbaloy Corp Indonesia.

Perubahan Dbaloy tidak berhenti pada legalitas. Hariyandi mulai melihat kondisi pasar Kaltara dari sudut pandang berbeda. Dengan jumlah penduduk dan pasar yang relatif terbatas dibandingkan Pulau Jawa, menurutnya, mengandalkan satu produk saja akan membuat ruang pertumbuhan usaha menjadi sempit.

Karena itu, Dbaloy memilih strategi memperbanyak varian produk. Jika pelaku usaha di Pulau Jawa dapat mengembangkan satu produk dengan pasar yang besar, Dbaloy menempuh jalan berbeda: menghadirkan lebih banyak produk untuk pasar yang lebih terbatas, tetapi dengan konsumen yang sama.

“Kalau di Jawa fokus satu produk dengan pasar yang luas, kami fokus banyak produk dengan pasar yang lebih kecil. Jadi, dari sisi omzet kami berusaha mengejar dengan cara yang berbeda,” ujarnya. Strategi tersebut membuat lini produk Dbaloy berkembang secara bertahap. Pada 2021, jumlah produknya mencapai sekitar 18 varian. Kini, jumlah tersebut telah berkembang menjadi 47 produk.

Sebagian besar merupakan produk olahan pangan berbahan dasar hasil perikanan, seperti Bandeng Presto dalam kemasan retort pouch, Bandeng Bumbu Tanpa Duri, Oseng Cumi, Oseng Kerang Dara, Oseng Paru Sapi, serta berbagai produk pangan siap saji lainnya. Tidak berhenti pada olahan bandeng, Dbaloy juga mengembangkan sejumlah produk yang mengangkat potensi daerah, antara lain kopi Malinau, teh bawang Dayak, beras Krayan dan garam Krayan.

Setiap tahun, Dbaloy menargetkan sedikitnya melahirkan dua hingga tiga produk baru. Bagi Hariyandi, inovasi bukan sekadar menambah daftar produk. Ada strategi bisnis yang ingin dibangun. “Targetnya sebanyak-banyaknya. Karena kami ingin menjaga pelanggan supaya tidak bosan dan tetap punya alasan untuk berbelanja dengan kami,” katanya. Strategi tersebut sekaligus menjadi cara Dbaloy mempertahankan konsumen dan membuka peluang pasar baru.

Digitalisasi Lahir dari Keterbatasan

Digitalisasi Dbaloy juga memiliki cerita tersendiri. Teknologi tidak masuk ke dalam bisnis tersebut karena sebuah strategi besar yang dirancang sejak awal. Digitalisasi justru lahir dari keterbatasan. Pada masa awal usaha, Hariyandi belum memiliki modal cukup untuk menyewa toko. Media digital menjadi pilihan paling murah untuk memperkenalkan produk.

Facebook, BlackBerry Messenger hingga Kaskus pernah menjadi bagian dari perjalanan awal pemasaran Dbaloy. “Pokoknya jualannya secara digital karena paling murah dan paling masuk akal. Hampir tidak ada biaya, kecuali biaya internet,” ujarnya. Pilihan yang awalnya lahir karena keterbatasan tersebut kemudian menjadi fondasi penting dalam perkembangan usaha. Seiring waktu, kanal pemasaran berkembang. Dbaloy memanfaatkan Instagram, Facebook, TikTok, WhatsApp Business serta sejumlah marketplace seperti Shopee, Blibli dan Tokopedia. Kini, sekitar 80 persen transaksi penjualan Dbaloy berlangsung secara online.

Digitalisasi juga merambah sistem pembayaran. Pemanfaatan QRIS membuat transaksi lebih praktis sekaligus membantu pencatatan pemasukan dan pengeluaran menjadi lebih tertata. Data penjualan kemudian dimanfaatkan untuk membaca produk yang paling diminati, mengatur produksi dan menentukan strategi pemasaran. Teknologi bagi Dbaloy akhirnya bukan lagi sekadar alat promosi. Ia telah menjadi bagian dari cara usaha dikelola dan dikembangkan.

Dari Kaltara Menembus Pasar Mancanegara

Transformasi produk dan pengelolaan usaha kemudian membawa Dbaloy keluar dari pasar lokal. Jika sebelumnya pemasaran lebih banyak bertumpu pada konsumen di Kaltara dan sekitarnya, kini produknya telah menjangkau berbagai wilayah di Indonesia.

Distribusi telah masuk ke sejumlah daerah di Kalimantan, Sulawesi dan Jawa, termasuk Jakarta, Surabaya, Balikpapan dan Makassar. Peluang pasar mancanegara pun mulai terbuka. Dbaloy telah beberapa kali melakukan pengiriman produk melalui Sebatik, Kabupaten Nunukan, menuju Tawau, Malaysia. Produk yang dikirim antara lain bandeng tanpa duri bumbu dan bandeng tanpa duri original.

Tidak berhenti di Malaysia, Dbaloy kini juga mulai membangun komunikasi dengan calon buyer dari Taiwan sebagai bagian dari upaya memperluas pasar internasional. Langkah tersebut menunjukkan bahwa produk UMKM dari Kaltara memiliki peluang bergerak lebih jauh ketika kualitas, legalitas, kapasitas produksi dan pemasaran terus diperkuat.

Perjalanan menuju pasar yang lebih luas itu tentu tidak ditempuh sendiri. Dbaloy aktif mengikuti pameran UMKM, bazar, business matching, pelatihan ekspor, pelatihan manajemen usaha, kurasi produk serta berbagai program pembinaan. Menurut Hariyandi, dukungan Bank Indonesia Kaltara memiliki peran penting dalam proses tersebut.

Selama sekitar dua tahun menjadi binaan, Dbaloy mendapatkan pendampingan, pelatihan, fasilitasi promosi, business matching hingga kesempatan mengikuti berbagai pameran dan expo. “Peran Bank Indonesia sangat luar biasa. Dari pembinaan sampai mendapat kesempatan mengikuti pameran dan expo, itu menjadi wadah agar produk kami lebih dikenal,” katanya. Bagi Hariyandi, pelatihan baru akan memberikan manfaat ketika ilmu yang diperoleh benar-benar diterapkan. Ia melihat tidak semua pelaku UMKM yang mendapatkan pelatihan mampu langsung menerapkannya dalam usaha. “Kekuatan kami adalah kami pandai mengeksekusi. Ada pelatihan, langsung kami praktikkan,” ujarnya.

Omzet Tumbuh, Lapangan Kerja Terbuka

Transformasi usaha tersebut mulai tercermin dalam kinerja bisnis. Pada 2023, omzet Dbaloy tercatat sekitar Rp664 juta. Setahun kemudian meningkat menjadi sekitar Rp724 juta, atau tumbuh sekitar 9 persen. Pertumbuhan tersebut didorong peningkatan kualitas produk, pemasaran digital dan perluasan jaringan pasar. Namun, bagi Hariyandi, keberhasilan usaha tidak cukup diukur dari angka omzet.

Ketika permintaan meningkat, kebutuhan tenaga kerja pun bertambah. Saat ini Dbaloy memiliki enam karyawan tetap dan sekitar 30 tenaga kerja freelance yang terlibat sesuai kebutuhan produksi dan operasional. Pola tenaga kerja tersebut berkaitan dengan karakter bahan baku yang sebagian besar berasal dari hasil tambak. Ketersediaannya dipengaruhi kondisi pasang surut air laut sehingga kebutuhan tenaga kerja dapat berubah mengikuti ketersediaan bahan baku dan volume produksi.

Untuk pasar domestik, permintaan produk olahan bandeng mencapai sekitar 40–60 kilogram per hari, atau setara sekitar 250–300 ekor bandeng untuk kebutuhan retail. Ketika seluruh bahan baku tersedia, Dbaloy dapat menyerap sekitar 4–5 ton bahan baku bandeng per bulan untuk kebutuhan produksi olahan.

Di balik angka tersebut terdapat rantai ekonomi yang lebih panjang. Ketika produksi meningkat, bukan hanya tenaga kerja yang memperoleh manfaat. Pemasok bahan baku, penyedia kemasan, jasa transportasi, percetakan hingga pelaku usaha pendukung lainnya ikut merasakan perputaran ekonomi. Pertumbuhan satu UMKM pada akhirnya dapat menciptakan efek berantai bagi masyarakat di sekitarnya.

Keluarga dan Kaltara di Balik Perjalanan Dbaloy

Di balik perjalanan bisnis tersebut, Hariyandi tidak pernah memisahkan pertumbuhan usaha dari dukungan keluarga. Istrinya, Ayu Purnamasari, menjadi salah satu sosok yang konsisten mendampingi perjalanan usaha sejak awal. Dukungan moral maupun tenaga dari keluarga menjadi fondasi ketika Dbaloy masih berada dalam kondisi serba terbatas.

Hariyandi merupakan alumnus Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman Samarinda. Ia juga pernah menjadi dosen praktisi di Fakultas Perikanan dan Fakultas Pertanian Universitas Borneo Tarakan serta menjadi narasumber dalam berbagai kegiatan sesuai bidang yang ditekuninya.

Pengalamannya sebagai pendamping, mentor dan coach kewirausahaan turut membentuk pandangannya terhadap pengembangan UMKM. Baginya, keberhasilan Dbaloy bukan sekadar tentang bagaimana sebuah usaha dapat bertahan. Lebih jauh, bagaimana usaha tersebut dapat terus tumbuh, menciptakan lapangan kerja, menyerap bahan baku lokal dan membawa nama Kaltara ke pasar yang lebih luas.

Perjalanan Dbaloy memperlihatkan satu hal penting: pertumbuhan UMKM tidak selalu berawal dari modal besar. Kadang, ia bermula dari keadaan terdesak. Dari rumah. Dari dapur produksi sederhana. Atau dari keberanian mengambil keputusan ketika pilihan yang tersedia sangat terbatas.

Dari sana, usaha berkembang melalui inovasi, pembenahan manajemen, pemanfaatan teknologi, pendampingan dan keberanian membaca peluang. Hariyandi memulai Dbaloy dengan dua modal utama—waktu dan tenaga. Kini, usaha yang dahulu tumbuh berdampingan dengan laundry itu telah memiliki 47 produk, jaringan pasar lintas daerah, peluang pasar mancanegara, serta puluhan orang yang ikut memperoleh manfaat dari keberadaannya.

Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa UMKM tidak sekadar tentang bertahan. UMKM adalah tentang keberanian untuk tumbuh. Ketika satu usaha mampu meningkatkan produksi, menyerap tenaga kerja, menggunakan bahan baku lokal, memanfaatkan teknologi dan membawa produk daerah ke pasar yang lebih luas, pertumbuhan itu tidak lagi menjadi cerita satu pelaku usaha. Ia menjadi bagian dari cerita pertumbuhan ekonomi daerah. Dari rumah, Dbaloy tumbuh. Dari Kaltara, produk bergerak lebih jauh. Dan etika semakin banyak UMKM berani naik kelas, Kaltara pun ikut maju. (*)

Penulis: Mansyur

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments