
KAYANTARA.COM, TARAKAN-Dari kebun konvensional menuju rumah tanam berbasis teknologi, perjalanan Lukas Thomas menunjukkan bahwa bertani tidak harus selalu identik dengan cara-cara manual. Melalui pembinaan Bank Indonesia, pengalaman puluhan tahun mengelola kebun dipadukan dengan teknologi digital.
Di tengah tantangan cuaca panas, keterbatasan air, listrik, dan jaringan internet, inovasi menjadi jalan untuk terus bertumbuh sekaligus membuka perspektif baru tentang masa depan pertanian di Kalimantan Utara. Panas matahari terasa menyengat ketika Lukas Thomas merawat tanaman cabainya di Jalan Pangeran Iskandar, RT 14, Kelurahan Juata Laut, Kecamatan Tarakan Utara, Kota Tarakan, Kalimantan Utara.
Namun, suasana di dalam rumah tanam berukuran 10 x 12 meter itu terasa berbeda. Tanaman cabai tumbuh berjajar dalam planter bag. Beberapa buah cabai mulai bermunculan di antara rimbunnya daun. Di tempat itu, air tidak hanya dialirkan menggunakan selang. Ada sistem penyiraman tetes dan pengkabutan yang dapat bekerja secara otomatis berdasarkan jadwal yang telah diatur melalui sistem digital.
Rumah tanam tersebut menjadi bagian dari perjalanan baru Lukas sebagai pelaku usaha pertanian. Setelah bertahun-tahun bertani secara konvensional, kini ia mulai mengenal bagaimana teknologi dapat membantu mengelola tanaman.
Bagi Lukas, rumah tanam itu bukan sekadar bangunan tempat bercocok tanam. Ia menjadi ruang belajar sekaligus laboratorium kecil untuk menguji bagaimana teknologi dapat beradaptasi dengan kondisi pertanian di Tarakan. Keterlibatan Lukas dalam pembinaan Bank Indonesia bermula pada akhir 2024. Setelah diperkenalkan dengan Bank Indonesia, berbagai kegiatan pembinaan mulai dijalankan pada 2025. Salah satu pengalaman yang membuka wawasannya adalah kesempatan mengikuti studi banding ke Jawa Barat.
Di sana, Lukas melihat bagaimana rumah tanam dan teknologi pertanian diterapkan oleh para petani. Namun, saat itu ia belum pernah membayangkan akan memiliki rumah tanam serupa. “Sebelumnya tidak pernah terpikir kami akan punya greenhouse seperti ini,” ujarnya kepada wartawan, Sabtu (22/8/2026)
Apalagi, pembangunan rumah tanam lengkap dengan perangkat teknologinya membutuhkan biaya yang cukup besar. Lukas pun tidak secara khusus mengajukan permintaan untuk mendapatkan fasilitas tersebut. Ia hanya diminta menyiapkan lahan apabila nantinya diperlukan. Ketika ditanya apakah memiliki lahan berukuran sekitar 10 x 12 meter, Lukas menjawab bahwa lahan tersebut tersedia di depan rumahnya. Tak disangka, tidak lama kemudian material pembangunan mulai datang. “Saya pikir, wah, ini serius sekali,” kenangnya.
Rumah tanam itu kemudian dibangun dengan nilai sekitar Rp200 juta, lengkap dengan perangkat dan sistem pendukung pertanian digital. Pembangunannya berlangsung relatif cepat, sekitar satu minggu, dengan dukungan tenaga teknis dari penyedia teknologi. Bagi Lukas, hadirnya fasilitas tersebut sekaligus menjadi amanah baru. Ia tidak hanya dituntut untuk bisa menanam, tetapi juga belajar mengoperasikan teknologi dan mencari cara agar fasilitas tersebut benar-benar memberikan manfaat.
Memilih Cabai untuk Pengendalian Inflasi
Cabai menjadi tanaman pertama yang dibudidayakan di rumah tanam tersebut. Pemilihan komoditas ini bukan tanpa alasan. Cabai merupakan salah satu komoditas pangan yang pergerakan harganya kerap berpengaruh terhadap inflasi. Karena itu, pengembangan cabai menjadi bagian dari upaya mendukung pengendalian inflasi, sekaligus mendorong produksi pangan dari daerah.
Bibit yang digunakan pun berasal dari daerah setempat. Menurut Lukas, penggunaan bibit lokal menjadi pilihan karena tanaman telah lebih beradaptasi dengan kondisi lingkungan dan cuaca setempat. Namun, menanam di dalam rumah tanam ternyata tidak serta-merta membuat semuanya menjadi mudah.
Pada penanaman pertama, Lukas mengalami kegagalan. Ia menggunakan polybag berukuran kecil. Media tanam yang terbatas membuat akar tanaman tidak berkembang secara optimal. Ditambah kondisi cuaca yang panas, media tanam lebih cepat kering. Tanaman pun tidak mampu bertahan hingga menghasilkan panen optimal. Kegagalan itu menjadi pelajaran.
Lukas kemudian mengganti polybag dengan planter bag yang lebih besar sehingga volume media tanam bertambah dan mampu menopang tanaman cabai yang dapat tumbuh hingga lebih dari dua meter. “Setelah itu kita evaluasi. Kita pakai planter bag yang sekarang lebih besar. Jadi media tanahnya lebih banyak,” tuturnya. Dari pengalaman tersebut, Lukas belajar bahwa teknologi bukan berarti menghilangkan seluruh persoalan dalam pertanian. Sebaliknya, teknologi harus dibarengi dengan kemampuan membaca kondisi tanaman dan melakukan penyesuaian.
Dari Gagal Panen hingga Mulai Berbuah
Perjalanan tanaman cabai hingga memasuki masa panen membutuhkan waktu cukup panjang. Sekitar 115 hari setelah ditanam, tanaman mulai memasuki masa panen. Pada penanaman pertama yang berhasil, hasilnya masih terbatas. Sebelumnya, panen pertama dari penanaman awal hanya sekitar enam kilogram dan sebagian besar digunakan untuk kebutuhan sendiri.
Memasuki 2026, tanaman kembali dibudidayakan. Hingga kini, Lukas telah beberapa kali melakukan panen dengan hasil berkisar setengah kilogram hingga satu kilogram per panen. Ketika hasil panen mencapai sekitar satu kilogram, cabai tersebut mulai dibawa ke pasar lokal untuk dijual.
Harga yang diterima Lukas berada di kisaran Rp60 ribu hingga Rp70 ribu per kilogram. Pada periode tertentu, harga bahkan sempat mencapai sekitar Rp110 ribu per kilogram. Meski demikian, Lukas menyadari produksi cabai dalam rumah tanam tersebut belum mampu menjadi sumber nafkah utama. “Kalau untuk sumber nafkah, belum bisa,” katanya. Masa tanam yang panjang dan perawatan cabai yang cukup intensif menjadi salah satu pertimbangannya. Namun, dari sisi pembelajaran, hasilnya jauh lebih besar.
Teknologi di Ujung Jari
Perbedaan paling mencolok antara rumah tanam Lukas dengan kebun konvensional adalah pemanfaatan teknologi. Sistem pertanian di dalam rumah tanam didukung perangkat yang memungkinkan penyiraman dan pendinginan dilakukan secara otomatis. Melalui aplikasi Habibi Garden, Lukas dapat mengatur jadwal penyiraman dan pengkabutan sesuai kebutuhan tanaman.
Sistem tersebut memungkinkan perangkat bekerja tanpa harus selalu dioperasikan secara manual. “Semua diatur dengan sistem. Ada penyiraman, ada pendinginan,” jelas Lukas. Pengkabutan berfungsi membantu menjaga kondisi lingkungan di dalam rumah tanam agar tidak terlalu panas. Sementara sistem tetes menyalurkan air langsung ke area tanaman. Lukas juga dapat memantau kondisi tanaman melalui telepon pintar selama sistem terhubung dengan listrik dan internet.
Bahkan ketika berada di luar daerah, pemantauan masih dapat dilakukan dari jarak jauh. Bagi Lukas, inilah salah satu keunggulan pertanian digital. Jika diterapkan pada lahan yang lebih luas, teknologi tersebut berpotensi mengurangi pekerjaan manual dan membuat pengelolaan tanaman menjadi lebih efisien.
Belajar dari Daerah Lain
Teknologi yang digunakan Lukas tidak membuat proses belajar berhenti setelah rumah tanam selesai dibangun. Ia masih terus belajar, termasuk melalui kegiatan studi banding yang difasilitasi Bank Indonesia. Salah satu kunjungan yang kembali memberikan pengalaman baru adalah perjalanan ke Batu, Malang.
Di sana, ia melihat bahwa kebutuhan air pada tanaman yang dibudidayakan dalam rumah tanam ternyata cukup tinggi. Pengalaman itu membuat pola perawatan di rumah tanamnya kembali dievaluasi. Setelah kembali, penyiraman ditingkatkan, terutama pada pagi dan siang hari, dengan memanfaatkan sumber air yang tersedia. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital bukan proses sekali jadi. Teknologi harus terus disesuaikan dengan kondisi tanaman, cuaca, ketersediaan air, hingga karakter lingkungan setempat.
Ketika Teknologi Berhadapan dengan Keterbatasan
Di balik kecanggihan sistem digital, masih terdapat sejumlah tantangan. Ketersediaan air menjadi salah satunya. Selama ini, Lukas memanfaatkan air hujan yang ditampung serta sumber air lain yang tersedia. Ia juga memiliki sumber air dari sumur bor, meskipun kualitasnya belum ideal untuk konsumsi manusia.
Kondisi cuaca panas menjadi tantangan tersendiri. Tanaman di dalam planter bag lebih cepat kehilangan kelembapan sehingga kebutuhan air harus diperhatikan secara lebih intensif. Selain air, listrik juga menjadi faktor penting. Ketika listrik padam, sistem otomatis tidak dapat bekerja. Karena itu, Lukas tetap mempertahankan cara manual sebagai langkah antisipasi. “Kalau listrik mati memang tidak bisa hidup. Makanya kita harus selalu sediakan sistem manual,” katanya.
Internet pun menjadi bagian penting karena sistem digital bergantung pada konektivitas. Namun, kebutuhan datanya relatif kecil. Lukas menyebut penggunaan sekitar 3–4 GB per bulan dapat dipenuhi dengan biaya sekitar Rp50 ribu. Dari sini terlihat bahwa digitalisasi pertanian bukan hanya soal memasang perangkat canggih. Infrastruktur dasar seperti air, listrik dan jaringan internet tetap menjadi penentu keberhasilan.
Dari Petani Konvensional Menjadi Petani Digital
Transformasi Lukas menjadi lebih menarik karena ia bukan pendatang baru di dunia pertanian. Ia telah bertani sejak sekitar 2005, tidak lama setelah menikah. Cabai menjadi salah satu komoditas yang paling lama digelutinya. Selain cabai, ia juga menanam timun dan tanaman lainnya sebagai bagian dari pola tumpang sari.
Selama bertahun-tahun, kegiatan tersebut dilakukan secara konvensional. Kini, pengalaman tersebut dipadukan dengan teknologi. Menurut Lukas, pertanian digital memiliki daya tarik tersendiri, terutama untuk generasi muda. “Ini akan bisa menjadi daya minat petani-petani milenial,” ujarnya.
Menurut dia, generasi muda yang selama ini mungkin kurang tertarik dengan pertanian manual dapat memiliki perspektif berbeda ketika diperkenalkan dengan pertanian berbasis teknologi. Petani tidak hanya bekerja dengan tangan, tetapi juga menggunakan telepon pintar, sistem otomatis, data, dan perangkat digital untuk mengelola tanaman. Namun, teknologi tetap membutuhkan perhitungan bisnis.
Rumah tanam berukuran 10 x 12 meter belum cukup besar untuk menjadikan budidaya cabai sebagai sumber pendapatan utama. Karena itu, Lukas mulai mempertimbangkan komoditas lain yang memiliki potensi ekonomi lebih tinggi. Melon dan tomat menjadi beberapa pilihan yang mulai dikaji.
Dari Cabai Menuju Komoditas Bernilai Ekonomi
Lukas melihat rumah tanam tersebut akan lebih optimal jika digunakan untuk komoditas dengan nilai ekonomi dan produktivitas yang lebih tinggi. Salah satu yang menarik perhatiannya adalah melon. Dengan kapasitas sekitar 320 tanaman, apabila setiap tanaman mampu menghasilkan lebih dari satu kilogram, produksi dapat mencapai sekitar 400 kilogram dalam satu periode.
Jika harga jual berada di kisaran Rp20 ribu per kilogram, potensi omzet kotor bisa mencapai sekitar Rp8 juta dalam satu periode produksi. Angka tersebut masih berupa simulasi dan belum memperhitungkan biaya produksi.
Namun, perhitungan sederhana itu menunjukkan bahwa pilihan komoditas menjadi faktor penting dalam menentukan keberlanjutan usaha. Karena itu, Lukas tidak ingin terburu-buru mengganti komoditas. Ia memilih berkoordinasi terlebih dahulu dengan Bank Indonesia untuk mencari model budidaya yang paling sesuai. Di sinilah proses transformasi UMKM terlihat. Fasilitas bukan menjadi akhir, melainkan awal dari proses belajar, mencoba, gagal, mengevaluasi, berinovasi, lalu mencari peluang usaha yang lebih menjanjikan.
Menumbuhkan Ekonomi dari Lahan Kecil
Saat ini, skala usaha Lukas memang belum besar. Namun, kontribusinya tidak semata-mata diukur dari besarnya omzet. Hasil panen cabai yang dijual ke pasar lokal ikut masuk ke dalam perputaran ekonomi daerah. Produksi yang berasal dari petani lokal dapat menjadi bagian dari rantai pasok pangan dan membantu memenuhi kebutuhan masyarakat.
Lebih jauh, rumah tanam tersebut menjadi contoh bahwa pertanian di Kalimantan Utara memiliki ruang untuk berkembang melalui pendekatan teknologi. Pengalaman Lukas juga memperlihatkan bahwa transformasi tidak harus dimulai dari lahan yang luas. Sebuah rumah tanam berukuran 10 x 12 meter pun dapat menjadi tempat untuk belajar mengenai digitalisasi, efisiensi, pengelolaan usaha, dan pengembangan komoditas.
Jika dikembangkan dalam skala yang lebih besar dan didukung infrastruktur yang memadai, konsep serupa berpotensi membuka peluang usaha baru, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan produktivitas, serta menarik minat generasi muda terhadap sektor pertanian.
Bagi Lukas, perjalanan itu masih panjang. Rumah tanamnya masih terus dievaluasi. Teknologi masih memiliki kendala. Komoditas yang paling tepat untuk dikembangkan juga masih dalam tahap pengkajian. Namun, ada satu hal yang telah berubah: cara pandangnya terhadap pertanian.
Dari kebun konvensional menuju pertanian berbasis teknologi. Dari sekadar menanam menuju mengelola usaha. Dari pengalaman bertahun-tahun di kebun menuju keberanian mencoba sesuatu yang baru. Lukas mungkin belum menjadikan rumah tanam itu sebagai sumber nafkah utama.
Namun, ia telah menunjukkan satu hal penting: pertanian dapat terus tumbuh ketika pengalaman, inovasi, dan teknologi berjalan bersama. Dan dari lahan kecil di Juata Laut, harapan itu mulai ditanam—bahwa ketika UMKM tumbuh, masyarakat ikut mendapat peluang, ekonomi lokal ikut bergerak, dan Kaltara pun semakin maju. (*)
Penulis: Supriyadi / Editor: Mansyur

